Pengakuan Penulis
Halo, pembaca tulisan yang diharapkan turut berbahagia.
Penulis ingin menyampaikan sebuah pengakuan, pengakuan keresahan perasaan. Berangkat dari sebuah pertemanan yang tak sengaja bertemu. Melibatkan penulis dan adik kelas penulis masa SMA. Ya ceritanya cukup singkat, kita satu rombongan ekspedisi mendaki gunung Lawu saat itu.
Setelah itu, kukira cerita akan selesai dan hanya saling mengetahui "Oh dia yang naik lawu itu".
Ternyata cerita itu berlanjut, ketika cuitan-cuitan mutualan di twitter pikirku ada baiknya aku punya kontaknya, sebelumnya pernah bertemu juga jadi tidak menjadi masalah perihal canggung dan memulai dari awal. Kuberanikan mengetik di kolom pesannya "*nomor dirahasiakan* wa aku *inisial dirahasiakan* kui nomorku"
Sudah itu saja, akhirnya adik kelas penulis menjadi teman bercakap penulis dengan semudah itu. Ya wajar saja, kami sudah kenal sebelumnya.
Ternyata percakapan yang kami usung sama-sama berangkat dari bagaimana kami terjatuh, rasanya wajar jika saling menguatkan. Semakin lama percakapan ini justru tiada akhirnya, bahkan adik kelas penulis terbangun tengah malam saja menyempatkan membalas dengan ujaran "wkwk iya mas"
Hal demikian berlanjut, pada akhirnya tema jatuh berganti tema tumbuh, tiba dimana pertemuan kedua kami setelah pendakian masa SMA. Pertemuan juga belum berdasarkan rasa, ya karena sama-sama gabut saja kita bercerita di Cleguk kala itu dan bercerita sewajarnya.
Menuju pertemuan ketiga kami, berawal dari permasalahan kartu perdana dan adik kelas penulis yang memutuskan untuk memulai pendidikannya lagi dari awal di Surakarta. Kami saling membutuhkan, sehingga terjadilah perjalanan ke Surakarta. Pertemuan ketiga kami ditutup dengan senyum manis customer service salah satu provider kartu perdana di Surakarta. Semua berjalan seakan tidak ada apa-apa, hanya teman biasa saja.
Akhirnya tema percakapan kami selalu random dan tanpa henti tiap harinya, tiba masanya sedikit ujaran hadir ditengah percakapan kami "nyaman itu jebakan mas" rupanya benar adanya. Lama sekali kami berteman, saling memberi kabar, rupanya nyaman itu memang jebakan.
Masih belum terlihat siapa yang nyaman.
Percakapan kami terus berlanjut, kadang dibumbui dengan guyonan "ragamu, ragaku, ragatuk" karena ya kami berdua masih usia remaja menuju dewasa yang isinya permasalah cinta itu itu saja. Sempat hadir cletukan "golekne aku pasangan" yang membuat seakan kita tidak mungkin menjadi pasangan karena kita adalah konco plek.
Ternyata pepatah "cinta datang karena terbiasa" itu benar adanya. Keresahan penulis dan adik kelas penulis sama! Namun kami belum berani dan memperlihatkan itu diantara percakapan kami, karena kami cukup sulit untuk membedakan antara bercanda dan serius.
Panjang jika diceritakan, akhirnya kami berdua memerlukan teman sebagai pendengar cerita kami. Disela percakapan pernah didapati "cewek ki isone mung nunggu"
Benar adanya keputusan memang ada sepenuhnya di tangan pria. Lebih dari 2½ tahun lamanya. Keresahan muncul ditengah perasaan kami.
Penulis merasakan kehilangan ketika percakapan basa basi "wkwk iya mas" saat dinihari tiada. Penulis merasakan kehilangan adik kelas penulis diposisinya. Pada akhirnya keresahan penulis itu harus dicurahkan dan disampaikan.
Meski waktu mengalami liku-liku batin yang panjang. Penulis ingin menyampaikan :
"Terima kasih dan minta maaf sudah membuatmu menunggu 2½ tahun lamanya." Akhirnya keberanian dan pergejolakan batin penulis usai, ujaran kejujuran tentang perasaan penulis diujarkan.
Akhirnya, perasaan kami berhasil berlabuh di muara yang sama. Selamat melanjutkan "kami" hingga titik yang dicita-citakan.
Bismillahirahmanirahim, semoga sampai.
Pengakuan Adityaputra Dewantara kepada Endah Tria.
Komentar
Posting Komentar